- See more at: http://kuc0pas.blogspot.com/2012/09/cara-membuat-kursor-mouse-di-ikuti-teks.html#sthash.tnx8uh8p.dpuf

Kamis, 01 Januari 2015

laporan etnografi antropologi

LAPORAN  ETNOGRAFI DESA BULUNGAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Antropologi
Dosen pengampu :
Dr. Tri Suminar,M,Pd















Disusun Oleh :

                                                            Nama : Irvan Ariviyanto
NIM   : 1201414020



     FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
         PROGRAM STUDY PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
             UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES)
                                                                         2014
Bab 1
1.     Lokasi,lingkungan alam,dan demografi
Bulungan adalah desa di kecamatan Pakis Aji, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Bulungan terdiri dari 15 Dukuh,dan terdiri dari 5 RW, dan 45 RT.Iklim didesa ini yaitu tropis,dan sifat daerahnya juga dataran tinggi. Jumlah penduduk di desa bulungan adalah sekitar 13,263 jiwa.
Letak geografis Di sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Suwawal Timur, Sebelah selatan Berbatasan dengan Desa Kecapi.Pada sebelah timur berbatasan dengan Desa Lebak, Sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Kuwasen dan Desa Mulyoharjo.
2.     Asal mula dan sejarahnya
Menurut Carita Parahyangan Cicit Ratu Shima adalah Sanjaya yang menjadi Raja Galuh, dan menurut Prasasti Canggal adalah pendiri Kerajaan Medang di Mataram. Nyidam merupakan hal yang lumrah bagi wanita hamil.Siapa saja tatkala hamil seringkali merasakan yang namanya Nyidam.Bahkan, seorang ratu pun bisa merasakan nyidam saat hamil.Nyidam selalu diidentikan dengan permintaan atau keinginan yang aneh-aneh.Sehingga, seringkali membutuhkan pengorbanan untuk memenuhi nyidam itu.Meski sulit dan butuh pengorbanan nyidam harus terpenuhi, jika nyidamnya tidak terpenuhi, mitos yang beredar luas di masyarakat, konon kelak ketika si jabang bayi lahir akan selalu ngiler (mengeluarkan air liur).
Sebagai wanita, Ratu Shima kala tengah mengandung tujuh bulan pun mengalami rasa nyidam. Meskipun seorang ratu, Ratu Shima kala itu nyidam buah kecapi. Buah yang rame rasanya, manis-asam-segar. Sang Ratu Shima ingin mencari dan memetik sendiri buah yang diingini itu. Ratu Shima tak ingin mengutus punggawanya mencarikan buah tersebut. Pasalnya, Ratu Shima khawatir jika mengutus punggawanya, begitu kembali ke hadapannya buah yang diingini sudah tidak segar lagi.
Dari Keling rombongan berjalan kaki menuju ke arah barat. Setengah hari berjalan Ratu Shima belum juga menemukan buah yang diidamkan itu. Beberapa desa pun sudah dilewati, tapi hasil pencariannya itu masih nihil. Saat tiba di suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon rembulung, Ratu Shima beserta pengikutnya beristirahat. Kini tempat yang dijadikan peristirahatan tersebut diberi nama Desa Bulungan.
Bab 2
3.     Bahasa
Bab tentang bahasa atau perlambangan manusia yang lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi satu dengan yang lain,Dari segi bahasa mungkin desa ini masih kental dengan bahasa jawa.
4.     System teknologi
Bab tentang teknologi atau cara-cara memproduksi,memakai,dan memelihara segala peralatan hidup dari suku bangsa dalam karangan etnografi,cukup membatasi diri terhadap teknologi yang tradisional,yaitu teknologi dari peralatan hidupnya yang tidak atau hanya secara terbatas dipengaruhi oleh teknologi yang berasal dari kebudayaan eropa atau kebudayaan barat
a.     Alat-alat produksi
Alat-alat produksi yang disini adalah alat-alatuntuk melaksanakan suatu pekerjaan mulai dari mulai dari alat sederhana sampai alat modern.dari sudut fungsinya,alat-alat produksi itu dapat dibagi ke dalam alat potong,alat tusuk dan pembuatan lubang,alat pukul,alat penggiling,alat peraga,alat untuk pembuatan api,tangga dan sebagainya sedangkan dari sudut lapangan  pekerjaannya ada alat-alat rumah tangga,alat-alat pertanian,alat penangkap ikan,alat pemahat dan sebagainya.masyarakat sudah tidak lagi menggunakan alat-alat zaman dahulu tetapi masyarakat sudah menggunakan alat-alat yang modern karena memudahkan masyarakat didesa ini dalam melakukan pekerjaan.
b.     Alat membuat api
Alat membuat api masuk dalam alat-alat produksi.alat membuat api sekarang sudah tidak lagi menggunakan seperti gesekan batu atau kayu tetapi sudah memakai alat modern seperti korek api,kompor gas,dan sebagainya.
c.      Senjata
Di lapangan pemakainnya ada senjata untuk berburu serta menangkap ikan,dan senjata untuk berkelahi dan berperang.senjata disini sudah menggunakan teknologi yang canggih.




d.     Makanan
Kalau soal makanan dapat juga kita anggap sebagai barang yang dalam ilmu antropologi dapat dibicarakan dalam teknologi dan kebudayaan fisik.makanan dapat dipandang dari sudut bahan mentahnya,yaitu sayur-mayur,dan daun-daunan,buah-buahan,akar-akaran,biji-bijian,daging,susu,dan hasil susu(dairy products),ikan dan sebagainya.Dipandang dari sudut tujuan konsumsinya,makanan dapat digolongkan ke dalam empat golongan,yaitu (a) makanan dalam arti khusus (food), (b)minuman(beverages), (c)bumbu-bumbuhan(spices),dan (d)bahan yang dipakai kenikmatan saja(stimulants).Masyarakat ini dalam hal cara-cara mengolah,memasak,dan menyajikan makanan serta minuman sudah menggunakan teknologi sekarang. 
e.      Pakaian
Warga desa ini menggunakan pakaian tidak seperti suku-suku yang hanya memakai kain saja tetapi desa ini sudah memakai pakaian tertutup dan sudah mengikuti perkembangan sekarang.
f.       Tempat berlindung dan perumahan
Tempat berlindung dan perumahan sudah mengunakan bangunan ada beberapa juga tempat berlindung yang menggunakan kayu dan bambu tetapi mayoritas warga didesa ini sudah menggunakan bangunan. Alat-alat transportasi  juga sudah mengikuti perkembangan zaman sekarang hanya saja warga didesa ini banyak yang belum mampu memakainya atau membeli.









Bab 3
5.     System mata pencaharian
Masyarakat Kecamatan Pakis Aji sebagian besar bertumpu pada usaha pertanian yakni pertanian kacang tanah. Luas lahan pertanian kacang tanah mencapai 1.541 Ha, namun hanya sekitar 200 Ha yang diusahakan secara intensif. Dengan irigasi yang baik dan dukungan bibit memadai, petani dapat memperoleh 3 kali panen selama setahun. Namun selama ini, petani hanya bisa memanen kacang tanah antara satu sampai dengan dua kali dalam setahun. Hambatan lain yang dihadapi oleh para petani adalah posisi mereka yang tidak cukup kuat apabila berhadapan dengan pengepul atau penebas, terlebih lagi jika petani sedang membutuhkan modal maupun benih untuk musim tanam berikutnya. Para penebas/pengepul biasanya akan membeli kacang tanah yang masih berusia muda. Hal ini menguntungkan bagi pengepul/penebas karena kacang tanah memiliki bobot yang cukup berat, namun kurang menguntungkan bagi petani karena seluruh tanaman akan tercerabut dari tanah dan tidak meninggalkan benih kacang tanah.   Berangkat dari kondisi ini, Badan Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG) Provinsi Jawa Tengah bermaksud meningkatkan kemandirian para petani kacang tanah dengan berbagai cara, diantaranya adalah menghubungkan petani dengan salah satu produsen olahan kacang yaitu Kacang Garuda agar rantai distribusi dapat diperpendek. Dan memperkuat persatuan diantara para petani kacang tanah melalui pembentukan suatu Forum Klaster Kacang Tanah.dan tidak hanya itu saja tetapi System peralatan hidup desa ini masyarakat melakukan dengan bekerja dan pekerjaan desa ini banyak karena perkembangan teknolgi sekarang ini masyarakat sebagian besar sudah mengetahui tetapi masyarakat lebih banyak yang bekerja sebagai tukang kayu karena jepara terkenal dengan sebagai pengrajin kayu.
Masyarakat juga melakukan perternakan hewan seperti kambing,sapi,ayam,dan sebagainya.dan ada juga warga yang menangkap ikan,memburu,bercocok tanam dll.warga desa ini memburu tidak lagi memakai tombak tetapi warga desa ini sudah menggunakan teknologi di zaman sekarang yaitu dengan menggunakan senjata angin atau tembakan angin.oleh karena itu masyarakat di desa ini menggunakan teknologi sekarang.sitem mata pencaharian warga  juga ada yang memburu,beternak,bercocok tanam,menangkap ikan,pedagang,tukang kayu,dan sebagainya.



Bab 4
6.     Organisasi social
Organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
a.     Unsur-unsur khusus dalam organisasi
Bab ini tentang mengenai unsur kesatuan social yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan kekerabatan,yaitu keluarga inti yang dekat dan kaum kerabat lainya.
b.     System kekerabatan
Sistem kekerabatan Jawa merupakan sistem kekerabatan yang berkembang di antara masyarakat Jawa. Istilah kerabat merujuk pada pertalian kekeluargaan yang ada dalam sebuah masyarakat. Sistem kekerabatan orang Jawa lebih didasarkan pada sisi fungsi dalam pergaulan, pengenalan dan daya ingat seseorang. Sistem kekerabatan Jawa tidak tergantung pada suatu sistem normatif atau sebuah konsep tertentu. Pada umumnya orang Jawa hanya berhubungan dengan keluarga intinya, yaitu orang tua saudara kandung, saudara kandung orangtua. Kekerabatan orang Jawa juga akan meluas ketika terjadi perkawinan antara dua orang yang melangsungkan perkawinan sah menurutagama dan adat. Sistem kekerabatan ini erat kaitannya dengan pembagian warisan. Sistem kekerabatan orang Jawa lebih bersifat Patrilinial.
Sistem kekerabatan berfungsi dalam hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan rumah tangga.Sistem kekerabatan memberi kehangatan dalam sebagai sebuah keluarga besar. Kehangatan dan kedekatan keluarga memberi jaminan saudara di hari tua.Sistem kekerabatan juga memberikan identitas keluarga besar seseorang yang akan menentukan kedudukan dan gengsinya dalam masyarakat.Selain itu, sistem kekerabatan memberi patokan untuk memberikan warisan sesuai dengan alur nenek moyang
7.     System pengetahuan
Dan dari segi system pengentahuan  anak-anak muda atau orang dewasa hanya bersekolah di jenjang pendidikan menengah dan hanya sedikit yang sekolah di pendidikan tinggi mayoritas setelah lulus mereka langsung bekerja dengan kata lain masyarakat di desa ini sangat kurang ilmu pengetahuannya
a.     Perhatian antropologi terhadap pengetahuan
Bab ini tentang mengenai system pengetahuan dalam kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan.bahan itu biasanya meliputi pengetahuan mengenai teknologi.
b.     System pengetahuan
Dalam tiap masyarakat,manusia tidak dapat mengabaikan pengetahuan tentang sesama manusianya.masyarakat sudah banyak yang mengerti tentang ilmu psikologi modern,dalam hal bergaul,tentang sopan santun pergaulan,dan sebagainya. System pendidikan di desa ada :
Pendidikan formal
·         SDN 1 Bulungan
·         SDN 2 Bulungan
·         MTs Miftahul Huda
Pendidikan Nonformal
·         Madrasah Diniyah Awwaliyah Mambaul Ulum
·         Sanggar Mudha Laras
Oleh karena itu sekarang desa ini mungkin teknologinya sudah berkembang karena di desa ini sudah ada sekolah formal sd,mts,dan ma dan sekolah informal Madrasah Diniyah Awwaliyah Mambaul Ulum dan sanggar mudha laras itulah  sekolah yang ada di desa ini.dan dengan adanya persekolahan formal dan informal maka diharapkan masyarakat tersebut agar memiliki ilmu pengetahuan yang luas sehingga masyarakat bisa mengimbangi perkembangan sekarang.






Bab 5
8.     Kesenian
a.     Bab tentang kesenian dalam etnografi
Bab ini tentang kesenian atau segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan.seni di didesa ini adalah seni ukir.pada dasarnya mengukir merupakan kesenian yang dilakukan oleh beberapa warga karena mengukir juga merupakan pekerjaan mereka.selain seni ukir juga ada kesenian wayang kulit.
b.     Lapangan-lapangan khusus dalam kesenian
Sanggar ” Mudha Laras” Bulungan Jepara Lestarikan Kesenian Wayang Kulit.Kesenian wayang kulit dulu merupakan kesenian primadona yang digemari setiap orang, dari kalangan masyarakat bawah sampai atas semua menyenangi nya. Oleh karena itu dalam setiap kesempatan kesenian ini digelar untuk memeriahkannya , diantara pesta perkawinan , supitan, melekan bayi dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun dengan pesatnya perkembangan jaman kesenian ini mulai tergeser oleh kesenian modern dan juga kesenian asing, sehingga perkembangan kesenian wayang kulit saat ini cukup berat menandingi kesenian baru terutama kalangan generasi muda. Meskipun demikian ada segelintir orang atau komunitas yang tetap getol mempertahankan kesenian wayang kulit ini agar tidak punah ditelan kemajuan jaman.

9.     System religi
a.     Perhatian antropologi terhadap religi
Masalah asal mula dari suatu unsur universal seperti religi, artinya masalah penyebab manusia percaya pada adanya suatu kekuatan gaib yang dianggapnya lebih tinggi dari padanya, dan penyebab manusia itu melakukan berbagai hal dengan cara-cara yang beragam untuk berkomunikasi dan mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi, telah lama menjadi pusat perhatian orang di Eropa, dan juga dari dunia ilmiah pada umumnya. Dalam usaha memecahkan masalah asal-mula religi, para ahli biasanya menganggap religi suku-suku bangsa diluar Eropa sebagai sia-sia dari bentuk-bentuk religi kuno, yang dianut oleh umat manusia pada zaman dahulu, juga orang Eropa ketika kebudayaan mereka masih berada ditingkat yang primitive.



b.     Unsur-unsur khusus dalam system religi
Masyarakat desa ini hanya percaya kepada allah SAW dan tidak menganut pada benda-benda patung atau lainnya yang bersifat gaib dan Salah satu tradisi masyarakat jawa yang hingga sampai sekarang measih tetap eksis dilaksanakan dan sudah mendarah daging serta menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa pada setiap tahunnya adalah sedekah bumi atau biasa dikenal dengan gas deso. Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang orang jawa jaman dahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berpotensi sebagai petani, nelayan yang menggantungkan hidup keluarga dan sanak saudara atau sanak keluarga mereka dari mengais riski dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.



























Daftar pustaka
·         Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
·         Fatkhul Muin.Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com)